Sikap Pesimis Dalam Usaha


SIKAP PESIMIS DALAM BISNIS

  1. Mengenal Sikap Pesimis
  2. Pesimis merupakan suatu sikap di mana seseorang banyak didominasi oleh pikiran negatif. Orang yang pesimis, hidupnya selalu dipenuhi dengan rasa ragu, tidak yakin akan kemampuannya sendiri, mudah putus asa jika menemui kesulitan atau kegagalan, selalu mencari alasan, yaitu dengan menyalahkan keadaan dan orang lain. Padahal (orang pesimis) menyadari bahwa dirinya adalah orang yang lemah mentalnya. Orang pesimis lebih percaya bahwa sukses itu hanya sebuah kebetulan atau sebuah keberuntungan. Untuk sikap pesimis harus dihapuskan dalam diri kita. Karena, sikap pesimis tidak hanya merugikan diri sendiri, akan tetapi juga dapat merugikan orang lain dan lingkungannya.

    Akibat Pesimis Dalam Usaha


    sikap pesimis dalam usaha

  3. Penyebab Sikap Pesimis
  4. Sikap pesimis dalam bisnis menghadapi persoalan, setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda. Ada yang biasa saja, ada yang selalu optimis, dan ada juga yang pesimis. Semua itu terkait dengan kehidupan masa lalunya. Orang pesimis, biasanya akan selalu melihat masa lalunya dengan hal-hal yang negatif. Dengan demikian, maka orang pesimis akan memiliki mental yang lemah. Lalu, apa yang sebenarnya menjadi penyebab orang menjadi pesimis? Ada beberapa penyebab yang perlu diketahui dalam sikap pesimis. Penyebab pesimis yang dimaksud tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Keraguan
  2. Keraguan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mengenal alam, wujud, dan eksistensinya. Seorang pemikir yang belum mengalami keraguan terhadap persoalan eksistensial dan ontologi secara umum, maka orang tersebut tak bisa mengenal realitas-realitas lain secara luas. Pencapaian ilmiah dan filsafat yang dialami oleh sekian banyak pemikir dan filosof bersumber dari keraguan terhadap tema mendasar makrifat manusia. Apabila ilmu dan pengetahuan seseorang’tidak diragukan oleh para ilmuwan, maka ilmu dan pengetahuan orang akan tetap berada dalam tingkatan tertentu, tidak mengalami kemajuan, serta tidak akan lahir beragam aliran dan sistem pemikiran ilmu.

    Apabila seseorang menjadikan’keraguan tersebut sebagai perantara dan jembatan menuju perolehan pen= getahuan dan makrifat ontologi serta ilmu-ilmu lain, maka hal tersebut sangatlah bermanfaat. Namun, jikakeraguan seseorang tetap berlangsung-artinya ia tetap berada dalam keraguan dan tetap tinggal pada jembatan keraguan tersebut-maka bentuk keraguan ini ti= dak boleh dikategorikan sebagai keraguan ilmu dan filsafat, karena orang seperti ini sesungguhnya mengalami sakit kejiwaan.


    Baca Juga : Bisnis Jualan Handphone Baru Atau Second

  3. Tidak adanya Cita-Cita
  4. Apabila seseorang tidak memiliki harapan, tujuan, cita-cita, dan ideologi, maka seseorang tersebut akan mengalami pesimisme dan keputusasaan. Seseorang yang tidak menentukan arah dan tujuan hidup, ketika berbenturan dengan berbagai kejadian dan fenomena yang tidak menguntungkan dirinya, bahkan terjebak daIam persoalan yang tidak ada solusinya, maka seseorang tersebut akan mengalami putus asa dan pesimis. Keberadaan tujuan, cita-cita, harapan, dan ideologi dalam kehidupan pada beberapa aspek bisa mengantisipasi pesimisme, di antaranya adalah sebagai berikut.

    1. Seseorang yang memiliki ideologi, maka seseorang tersebut akan berharap untuk sampai pada cita-cita ideologinya. Harapan ini akan mencegah manusia untuk putus asa dan pesimis.
    2. Semua upaya untuk mencapai tujuan ideologi membuat seseorang menjadi sangat sibuk dan tidak mengizinkan pikirannya terpengaruh oleh pesimisme.
  5. Materialisme
  6. Penganut materialisme beranggapan bahwa seluruh fenomena, peristiwa, dan kejadian yang terwujud di alam semesta ini bersumber dari hal yang bersifat kebetulan dan tidak berasal dari rangkaian sebab-akibat. Mereka menetapkan bahwa kehidupan dunia merupa’ kan puncak tujuan manusia dan kebahagiaan dititikberatkan pada kehidupan materi dan kesejahteraan hidup. Sementara agama dan pandangan dunia ilahi meletakkan kehidupan dunia ini sebagai perantara dan bukan akhir dari kehidupan.

    Orang-orang materialisme tidak percaya pada Tuhan dan kehidupan pasca kematian. Mereka beranggapan bahwa keberadaan mereka dan alam semesta tidak ‘ memiliki arah dan tujuan, bahkan mereka beranggapan bahwa kehidupan dunia adalah perkara yang sia-sia dan tak bermakna. Kaum materialis tidak memahami rahasia dan hakikat penciptaan, oleh karena itu mereka tidak akan mengetahui asal keberadaan mereka, tujuan kehadiran mereka di dunia, dan puncak perjalanan kehidupan mereka.

  7. Lingkungan Sosial
  8. Lingkungan sosial yang tidak seimbang, dapat menyebabkan banyak orang yang tertarik ke arah pesimisme Di abad kontemporer, faktor ini merupakan salah satu hal yang mendasari seseorang terjebak pada pesimisme Tokoh-tokoh yang mencetuskan ide pesimisme-Sartre, Albert K, dan Kafka-apabila ditelaah latar belakang ke hidupan mereka terlihat bahwa faktor lahirnya gagasan ide mereka ini dikarenakan oleh kondisi dari lingkungan sosial yang tidak seimbang dan tidak teratur.

  9. Dilema Penciptaan
  10. Melalui perjalanan sejarah, manusia senantiasa ingin mengetahui dari mana dirinya berasal, untuk apa dirinya hadir di muka bumi, dan ke mana dirinya akan pergi setelah kematian. Sebagian manusia merasa tidak mampu memberikan solusi atas persoalan tersebut, kemudian mengabaikannya dan sebagian lain (minoritas) sangat serius memandang masalah itu, serta berusaha secara terus-menerus mencari jawaban yang hakiki.

    Permasalahan tersebut dihadapi oleh semua kalangan pemikir dan filosof, namun problematika penciptaan itu dapat diselesaikan dengan cermat bagi sebagian filosof, terutama para filosof Muslim. Karena para filosof Islam–A|-Farabi, Ibnu Sina, Khwajah Nashiruddin Thusi, Mulla Sadra, dan filosof Islam kontemporer-bersentuf han dengan sistem filsafat yang sempurna. Pengetahuan mereka terhadap teks-teks suci agama Islam sangat lengkap.

    Untuk itu, para filosof ini tidak jatuh ke lembah pesi’ misme. Hal tersebut, berbeda dengan pemikir lainnya,seperti tokoh-tokoh yang dikenal sebagai pendukung dari filsafat pesimisme dan nihilisme. Mereka tidak mempunyai sistem filsafat yang komprehensif, tidak memiliki metodologi berpikir yang sempurna, dan tidak menjangkau sumber asli agama. Akhirnya, mereka tidak dapat memahami dan memberikan solusi yang sempurna atas semua persoalan tersebut. Puncaknya adalah mereka berpegang pada konsep pesimisme dan nihilIsme.

  11. Rahasia Kematian
  12. Kematian merupakan salah satu faktor yang mendasari kecenderungan manusia kepada pesimisme. Hakikat kematian yang tak terungkap menarik begitu banyak para pemikir dan filosof ke arah pesimisme. Manusia yang telah terjebak dalam kesenangan lahiriah dan juga mengetahui bahwa kesenangan itu mesti berakhir, maka seketika itu ia akan putus asa dan pesimis. Orang-orang yang tidak bisa terperangkap dalam pesimisme ialah orang-orang yang percaya bahwa pasca kematian terdapat alam keabadian (alam akhirat).

    Mereka yakin bahwa kehidupan dunia adalah suatu tahapan untuk memasuki tahapan lain, yaitu kehidupan yang lebih sempurna dan abadi. Dengan demikian, maka kematian bukan akhir dari kehidupan, tetapi jembatan yang menghubungkan antara dunia dengan dunia lain. Namun, bagi mereka yang tidak percaya akan keberadaan alam lain, maka kematian bermakna akhir kehidupan; Dengan pengetahuan semacam ini, maka mereka akan lebih memilih pada pesimisme.

  13. Pendidikan
  14. Pendidikan merupakan suatu hal yang paling mendasari terwujudnya kesuksesan dan keberhasilan manusia dalam kehidupan. Seseorang yang dibesarkan dan tumbuh dalam keluarga yang terdidik dan penuh kasih sayang sangat kecil kemungkinan mengalami pesimisme. Hal ini akan sangat berbeda dengan seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak berpendidikan, tidak bermoral, penuh kebencian,.serta tidak memiliki cinta maupun kasih sayang secara proporsional. Pendidikan . yang membuat manusia menjadi sempurna adalah pendidikan yang berpijak pada filsafat penciptaan, dalam koridor hakikat kemanusiaan,__dan ajaran Ilahi.

    Bagaimana Cara Menghilangkan Pesimis dan Mengembangkan Optimis


  15. Rendah Diri
  16. Berbisnis mempunyai sikap Rendah diri merupakan salah satu faktor penyebab lahirnya pesimisme. Jika rasa rendah diri ini mencapai derajat tertentu, makaakan menyebabkan suatu penyakit kejiwaan. Biasanya, orang yang mengidap penyakit ini senantiasa melihat kelemahan yang ada pada dirinya dan tidak memandang kelebihan yang dimilikinya. Jika sudah seperti itu, maka orang tersebut akan mudah merasa gagal,-menjadi pesimis, dan mudah putus asa.